revolusi berkarya
this is my blog
Rabu, 10 November 2010
Integritas antara budaya,moralitas dan selektivitas (CANGKIR)
Apabila kamu berjalan-jalan sore atau malam hari di “seputar desa kita” Peganden, banyak pemandangan yang unik di pinggir2 jalan di desa tercinta ini, Ya.. anda akan menemui kerumunan orang2 (biasax lk2) dari usia muda hingga tua, yang biasa disebut “Cangkru’an”. Pemandangan seperti itu sudah mjd hal umum . cangkru’an atau istilah kerennya “Clubbing” / “Stress Release” sudah bisa dibilang mjd budaya orang Gresik, khususnya warga Peganden.
Selama ini memang kata cangkruk + ngopi menjadi budaya khas Gresik, sgt melekat di telinga kita. Rekan2ita terutama cowok2 pasti sering nongkrong untuk melepas stress N ngumpul sama teman2 . itu terbukti dari result, ternyata para pemuda memilih Warkop (80%) untuk dijadikan tempat nongkrong favorit, dan 20% lainnya memilih Warnet (truz…Masjid or Langgarnya siapa yg jadi pemudanya..?!?). Warkop menjadi favorit dikarenakan berbagai arguments, antara lain: Tempatnya Asyik (40%), ngumpul sama teman (30%), dan Harganya murah (20%). (jika kaya’ gini,,,,apa perlu organisasi ini buat warkop..?)
“Ketika Moralitas Kaum Santri terus mengecil”
Gresik memang mempunyai sejarah religi yang sgt kuat hingga saat ini, dan Gresik dikenal sebagai kota santri sekaligus kota industry. Dan sisa2 karakter agamis kini masih dapat ditemui. Tetapi dapat dikatakan berlebihan kalau kini Gresik secara substansial masih layak disebut sebagai kota santri. Memang dahulu Gresik dikenal sebagai kota santri karena memang masyarakatnya mampu menempatkan budaya Islam sebagai kebudayaan yang dominan. Namun, kebudayaan Islami kini kian hari kian sulit untuk ditemui di Gresik, utamanya di kalangan anak2 muda. Ada beberapa hal yang dapat argumentasikan sebagai fakta telah terjadi degradasi budaya santri.
Firstly, rendahnya etos dalam mencari ilmu di lingkungan masyarakat Gresik, khususnya dalam ilmu agama.
Rendahnya budaya mencari dan mendalami ilmu agama ini dapat diamati dari rendahnya intensitas melakukan pengkajian terhadap ilmu agama, dan sebaliknya lebih membudayakan pengkajian untuk sekedar mendapatkan kepraktisan dalam beragama. Secondly, terjadinya degradasi etika –religius yang berdampak pada munculnya dekadensi moral di kalangan generasi muda.
Kaum muda di Gresik (diakui/tidak) semakin menjauh dari nilai2 agama. Masjid di Gresik kian bertebaran, tp kalangan muda justru lebih memilih warung kopi dengan pelayan2 ABG yang seksi sebagai tempat berkumpul. Ironisnya , kondisi tsb kurang mendapat perhatian serius dari aparat pemerintahan sendiri. Di sisi lain, masyarakat sekitar pun tidak begitu peduli dengan fenomena tersebut. Tidak ada kekhawatiran sedikit pun terhadap efek negative dari warkop2 yg tidak sekedar menjual kopi tsb. Thirtly, meningkatnya mentalitas kapitalisme di lingkungan masyarakat. Perubahan dari budatya masyarakat santri-niaga ke masyarakat industry telah benar2 mengubah mentalitas masyarakat.
Bergantinya budaya masyarakat Gresik dari ‘budaya santri’ ke ‘budaya sekuler’ tsb tidak hanya terlihat dari berubahnya pola pikir masyarakat awam. Kehidupan keberagaman di Gresik pun berubah menjadi sesuatu yg sangat formalistis semata. Masjid seharusnya kembali sebagai sarana untuk mengelaborasi ilmu2 keislaman dan sekaligus untuk menyelesaikan persoalan keumatan, ex: kemiskinan & kebodohan. Dari masjidlah seharusnya masalah moral dihembuskan sehingga tempat2 umum mendapat imbasnya. Semoga semua kebusukan tsb sekedar mimpi buruk.
“Memilih Teman Harus Selektif!”
“Satu-satunya cara menghargai kebaikan adalah dengan kebaikan, satu-satunya jalan untuk memiliki sahabat adalah dengan menjadi seorang sahabat (Emerson)”
Berteman memang asyik. Bisa curhat, bisa dapat pengalaman & wawasan. Namun ngak semua orang bisa kita jadiin teman. Apalagi teman baik. WHY? Karena gag semua orang bisa ngajak kpd kebaikan. Jadi, kita harus selektif & hati2 memilih teman. Jangan korbankan dirimu demi sebuah pertemanan, jika akhirnya kita kudu membayar mahal dg hancurnya persahabatan, bahkan masa depan kita.
Rekan2ita…meski kita selektif dalam memilh teman, bukan berarti kita pengen ekslusif. Berbeda boleh aja, coz “differentiation is beautiful”. Tapi jangan sampe membedakan diri dg yang lain. Jadi, klo kita benar2 pengen selektif dalam memilih teman, coba deh ikutin tips2 berikut ini :
#Pilih teman yang baik perangai & perilakunya!
Ini bukan persoalan membedakan diri. Tapi ini u/ kebaikan kamu juga. Pilihlah teman yg baik perangainya: G arrogant, G cpat marah, Dan tdk suka melecehkan. Pilih juga teman yg G suka hura2 & suka nongkrong gak karuan.
#Punya prinsip kuat
jika tempat tinggalmu komunitasnya heterogen, kamu bisa berteman dg mereka dalam hal2 yg umum (belajar bersama ato olah raga bersama). Tapi kamu tetap pegang prinsip agar G ikutan nyebur dg kegiatan mereka yg kamu anggap rusak.
#Pilih Yang Menghargai dirinya sendiri
Orang yang pandai menghargai dirinya sendiri biasanya pandai menghargai orang lain, ini bisa kita lihat dari dia berpakaian, berbicara dengan orang lain,
dan bagaimana dia menghargai orang tuanya.
#Pastikan ia adalah orang yang bisa dipercaya
Cara menilai ini, kamu bisa tes dia dengan cara ngomongin orang lain, jika dia gag suka bergosip, maka dia pantas menjadi temanmu.
#Cari yang penuh semangat juang
Orang seperti ini bisa menjadi penjelma penyemangat ulung untuk membangkitkan semangat kita. Lihat aja dari aktifitasnya yang gag kenal lelah. Klo di depan teman2 dia gag pernah mengeluh. insyaALLAH ia adalah orang yang penuh dengan semangat juang.
Dari ketiga hal diatas, kita bisa ambil integration atau integrasi (penggabungan) diantaranya yang pada dasarnya kita harus teliti dalam bergaul. Jangan sampai lingkungan buruk mempengaruhi kita, tetapi justru kita yang harus mempengaruhi lingkungan kita dengan kebaikan2. Jadi, kita butuh adanya filterlisasi dalam hidup ini, salah satunya dengan ilmu agama Islam. Mulai dari sekarang Kita harus memperdalam Ilmu yang tentu saja melalui proses belajar dan segera kita amalkan.
“Orang bijak adalah dia yang hari ini mengerjakan apa yang orang bodoh akan mengerjakannya tiga hari kemudian (Abdullah Ibnu Mubarak)”
IPNU-IPPNU adalah Organisasi yang mempunyai dasar Ahlussunnah wal jama’ah, organisasi yang dikhususkan sebagai wadah berkumpulnya para pelajar Islam untuk mewujudkan kader2 yang cerdas berwawasan islam dan berguna bagi Negara, agama dan bangsa.
Daftar pustaka :majalah Image edisi ke-4 dan ke-6
Rabu, 13 Oktober 2010
Rotibul Hadad Ratib Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad adalah Ratib yang penuh dengan keberkahan. Beliau menyusun Ratib ini pada malam 27 Romadhon 1071 H.
Sebab daripada penyusunan Ratib ini adalah sebagaimana yang diriwayatkan dalam kitab
زخيرة المعاد بشرح راثب القطب الحداد yang dikarang oleh As-Syaich Abdullah bin Ahmad Ba-Saudan bahwa :Seseorang telah datang kepada penyusun ketika mendengar sekelompok dari Madzab Zaidiyah masuk ke negeri Hadlromaut, meminta agar Al-Habib Abdullah menyusun beberapa kalimat dzikir yang mengandung pemantapan Aqidah dan Iman, untuk membentengi Aqidah dan Iman mereka dari pengaruh kelompok tersebut, yang dapat mereka amalkan bersama.
Maka dari sanalah Al-Habib Abdullah menyusun Ratibnya yang mulia ini. Setelah kemudian mulailah Ratib ini menyebar ke berbagai penjuru dunia, beranjak dari negeri Hadlromaut ke Yaman, Makkah, Madinah, Mesir, Syiriah, India dan berbagai propinsi yang berada di negeri kita yang tercinta ini. Ratib ini memilki keistimewaan yang amat luar biasa.
Bahkan Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad sendiri seringkali mewasiatkan agar Ratib ini selalu dibaca, beliau berkata
“Ratib kami ini menjaga negeri yang dibacakan padanya”
Dalam kesempatan lain Al-Habib Abdullah bin Alwi Al-Haddad berkata:
“Siapa yang senantiasa mengamalkannya akan mati dalam khusnul khotimah”
Dua jaminan yang amat luar biasa telah dinyatakan oleh penyusun Ratib sendiri, yang kemudian diikuti oleh pujian para ulama’ dan sholihin, serta berbagai fakta yang menunjukkan bahwa pengamal dari Ratib ini mendapatkan keselamatan dan keamanan dari pencurian, tenggelam, sihir dan gangguan jin serta bencana lainnya. Semoga Allah memberikan taufiq kepada kita untuk dapat mengamalkannya di setiap malam hari.
Aamiin.
Senin, 19 April 2010
profil ipnu-ippnu peganden
| Tentang IPNU | | | |
| Kamis, 19 Agustus 2004 | |
| Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (disingkat IPNU) adalah badan otonom Nahldlatul Ulama yang berfungsi membantu melaksanakan kebijakan NU pada segmen pelajar dan santri putra. IPNU didirikan di Semarang pada tanggal 20 Jumadil Akhir 1373 H/ 24 Pebruari 1954, yaitu pada Konbes LP Ma’arif NU. Pendiri IPNU adalah M. Shufyan Cholil (mahasiswa UGM), H. Musthafa (Solo), dan Abdul Ghony Farida (Semarang). Ketua Umum Pertama IPNU adalah M. Tholhah Mansoer yang terpilih dalam Konferensi Segi Lima yang diselenggarakan di Solo pada 30 April-1 Mei 1954 dengan melibatkan perwakilan dari Yogyakarta, Semarang, Solo, Jombang, dan Kediri. Pada tahun 1988, sebagai implikasi dari tekanan rezim Orde Baru, IPNU mengubah kepanjangannya menjadi Ikatan Putra Nahdlatul Ulama. Sejak saat itu, segmen garapan IPNU meluas pada komunitas remaja pada umumnya. Pada Kongres XIV di Surabaya pada tahun 2003, IPNU kembali mengubah kepanjangannya menjadi “Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama”. Sejak saat itu babak baru IPNU dimulai. Dengan keputusan itu, IPNU bertekad mengembalikan basisnya di sekolah dan pesantren. Visi IPNU adalah terbentuknya pelajar bangsa yang bertaqwa kepada Allah SWT, berilmu, berakhlak mulia dan berwawasan kebangsaan serta bertanggungjawab atas tegak dan terlaksananya syari’at Islam menurut faham ahlussunnah wal jama’ah yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Untuk mewujudkan visi tersebut, IPNU melaksanakan misi: (1) Menghimpun dan membina pelajar Nahdlatul Ulama dalam satu wadah organisasi; (2) Mempersiapkan kader-kader intelektual sebagai penerus perjuangan bangsa; (3) Mengusahakan tercapainya tujuan organisasi dengan menyusun landasan program perjuangan sesuai dengan perkembangan masyarakat (maslahah al-ammah), guna terwujudnya khaira ummah; (4) Mengusahakan jalinan komunikasi dan kerjasama program dengan pihak lain selama tidak merugikan organisasi. Sebagai salah satu perangkat organisasi NU, IPNU menekankan aktivitasnya pada program kaderisasi, baik pengkaderan formal, informal, maupun non-formal. Di sisi lain, sebagai organisasi pelajar, program IPNU diorientasikan pada pengembangan kapasitas pelajar dan santri, advokasi, penerbitan, dan pengorganisasian pelajar. Kini IPNU telah memiliki 33 Pimpinan Wilayah di tingat provinsi dan 374 Pimpinan Cabang di tingkat kabupaten/kota. Sampai dengan tahun 2008, anggota IPNU telah mencapai lebih dari 2 juta pelajar santri yang telah tersebar di seluruh Indonesia. |


